Minggu, 22 Februari 2009

Hiasan NasGoR

Badan rasanya masih capek setelah mengikuti dua acara kopdar kemarin. Masih ditambah lagi acara nonton Inter vs Bologna, lengkaplah kecapekanku pagi ini. Tadi malem memang sampai malem sih acara kopdarnya, sehingga langsung nyambung dengan Liga Italia.

Meski begitu aku tidak bisa mengesampingkan niat lu2k [si anak mbarep] untuk membuat sarapan pagi yang –katanya- akan nikmat sekali. Syaratnya hanya satu, aku mesti beli ini itu untuk kelengkapan menu masakan hari ini.

Ha..ha..ha... ternyata yang dibutuhkan cuma telur aja. Ya udah aku meluncur sama LiLo ke warung. Eh ... ternyata bensin abis, ya terpaksa beli bensin dulu.

Habis mbeliin telur, aku mbaca-mbaca blog lagi, karena dilarang untuk melihat proses masak memasak di dapur.

Dua orang adik dan kakak kulihat ribut berdua di dapur. Senengnya melihat mereka saling mengisi dalam melakukan perbuatan baik.

Akhirnya selesailah hasil karya mereka. Wow... emang nikmat kelihatannya.


Apalagi setelah dihiasi sesuai nama-nama pemilik nasi goreng.

ini punya babe deh
ini punya LiLo

ini punya LiTha

dan ini punya Lu2K Trezna
+++
ditulis oleh eshape

Sabtu, 21 Februari 2009

AcaRa MaSaaK..XD


Hari ini ada Acara MasAk2 GaJe di RumaHku...!! MeNuNya LaSagNa en KeNtaNg KeJyuu... di SpoNsori Oleh aKu , DeLLa , Ayyu , en LiTh2..


Sepulang sekoLah, aKw, DeL , en Yu' PerGi Ke PaSiMAL, ditemenin saMa TesSa JuGa,, BuaT BeLi KentaNg, Keju, DaGing, en MaKroni,,
Tapi deNgan toLolnya, kita cuman bawa duIt 9000 ruPiah buat beli barang sebanyak itu,, DaSar aNaK - anak SmP Gebleg,,


AkhirNya baRang yaNg bisa dibeLi cuman Keju en MakroNi..


Untungnya di rumah Ada KentaNg en Daging AyaM,,
(lagi2 hebatnya KekuaTan Keinginan...Ckckck...-O-),,



SeTeLah beLanja dua baraNg di PasiMaL, aKu en DeLLa Langsung Pulang ke rumahku, sedangkan aYu pulaNg KeruMAhnya.. buAt sEtor muKa ke nyokePnya...


Acara MaSak Langsung JaLan sesaMpe aKu dan DeLLa ke Rumah,, tanpa acaRa tungGu2an si AyYu,, si LiTh2 JuGa Ikut BaNtuin,,



MeSkipun hasil MasaKaNnya TerKesan RaDa *ehM *ehM.. KarNa FaKtor KeKuraNgan BahaN en Duit,, Rasa mAsakaNnya TeTeP aJa MantaBbb....

KenyaNg deh,,



Tapi Walopun daH KeNyaNg, si DeLL2 teTep aja KeLiaTaN KeLaPeraN,, KaYak belom maKan 20 Taon,, SaMpe KuLit KeNtaNgnya dImaKan Juga,, CkcKcK..
SebeNeRnya Tadi PengeN diPotO, TaPi KaMera daH Wafat(padahal KaGa' PuNya..:P),, KheKheKhe... XD

ini juga Enjoy Aja


Subject: Fw: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Contoh BERPIKIR POSITIF
 
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. 

Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. 
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata kepada sang ibu :

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Berikut ini beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;
  1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain 
  2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum. 
  3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
  4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi 
  5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
  6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
  7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
  8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
  9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
  10. Untuk semua masalah dan penderitaan hidup yang saya alami, karena itu artinya saya memiliki pengharapan hidup kekal yang penuh sukacita di surga.

Apa pendapat anda?

Jumat, 20 Februari 2009

LiLo belajar JUALAN

"Bapak cepet pulang ya, kita harus beli-beli nih untuk jualan besok", kata LiLo di ujung telepon, ketika aku baru selesai kursus bahasa Inggris [he..he..he... masih semangat kursus nih yeeew!]

Akupun menyanggupinya, sambil berpikir untuk nelpon istri agar segera pulang, karena jarak istri ke rumah kayaknya lebih dekat daripada jarak aku ke rumah. Meskipun sudah malem, jalan relatif lebih sepi, tapi kalau ngantuk, ya nyetirnya nggak bisa kenceng-kenceng, harus tetap hati-hati dan waspada. Jangan ngebut, jaga etika berkendara !

Sayangnya istriku gak bisa dihubungi [nada sibuk terus], terpaksa pulang dengan sedikit ngebut. Kasihan LiLo sudah nunggu di rumah dan kalau kemaleman tokonya bisa jadi sudah tutup.

Sampai di rumah suasana sudah kacau balau. Begitu buka pager rumah, LiLo langsung masuk mobil dan dengan suara terisak sudah duduk disampingku dan lupa tidak membuka pager secara utuh, sehingga aku belum bisa masuk rumah, menunggu kakak LiLo membuka pintu pager sampai bisa dilalui mobil.

"Ibu nggak mau ngasih uang 20 rebu untuk beli-beli pak", begitu laporan LiLo sambil masih denga terisak.

Yah, latihan sabar lagi nih.

Akupun langsung masuk kamar dan berbaring di kasur.

"Siapa mau cerita duluan, sebelum aku tidur nih", kataku seperti biasa [mungkin anakku sudah bosen dengan gayaku ini].

Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku sedang capek, pulang malem dan perl segera istirahat, jadi jangan ada yang ngambek, sehingga masalah segera selesai.

Mulailah ibunya LiLo cerita, kemudian LiLo menyela disana-sini. Akhirnya kuputuskan untuk sependapat dengan ibunya.

Kuminta LiLo membuat daftar belanjaan dan kuantar ke toko kesayangannya. Eh, rupanya LiLo masih ngambeg, dia nggak mau mbawa kertas untuk nyatat belanjaannya.

Ya udahlah, biar jadi pelajaran buat Lilo.

Bener juga, di toko itu LiLo sibuk mondar mandir kesana-kemari untuk nyari barang yang mau dibeli dan mencoba mencocokkan agar jumlahnya tepat 20 rebu.

"Pak kalau satu biji 2.700 kalau tiga biji berapa ya?"

"Kala ditambah 9 rebu jadi berapa pak?"

Halah, LiLo malah ngasih kerjaan aku.

Akhirnya semu abarang ditaruh di kasir dan ditotal pakai mesin, Keluarlah angka 34 rebu. LiLopun tersenyum malu dan akupun tidak usah membahasnya, karena liLo sudah menyadari kesalahannya.

Pembahasan kesalahan yang sudah jelas tidak akan mendukung terciptanya suasana harmonis, jadi kuajak LiLo pulang dan kuserahkan proses selanjutnya pada ibunya.

"Oke, sekarang kita isi kolom pembelian dan kolom penjualannya", kata ibunya.

"LiLo mau pasang untung berapa?", begitu kata ibunya dan kami semua menonton proses penyusunan keuntungan penjualan itu.

Besoknya aku mendapat laporan dari ibunya dan kakak LiLo, bahwa penjualan LiLo rugi besar. Rupanya karena nggak laku dan pingin segera habis jualannya, maka LiLo melakukan obral diskon, sehingga uang yang masuk malah di bawah uang untuk membeli barang yang dijual.

He...he...he... dasar LiLo.


ditulis oleh penulis tamu eko.eshape@gmail.com

[sampai berita ini ditulis, LiLo belum lapor hasil penjualannya, dia masih sibuk dengan PR matematikanya, sementara kakak-kakaknya sudah meminta LiLo untuk mempertanggung jawabkan penjualannya]

Senin, 16 Februari 2009

Alien dari Planet TURO

"Pak hasil fotoku, nanti dimasukin blog ya?", kata LiLo setelah dia berhasil membuat boneka kertas alien dari planet Turo.



"Terus aku nulis ceritanya gimana donk?"

"Bapak cerita aja begini, tadi pagi beli koran, terus ada gambar alien, terus anakku bilang mau buat boneka kertas itu dengan dibantu oleh kakak-kakaknya", kata LiLo melanjutkan.

"Terus?"

"Nah, malemnya LiLo mencoba menyelesaikan pekerjaan itu tapi karena ngantuk dia tertidur. Paginya dia melanjutkan pembuatan boneka itu tapi karena gak ada lem yang ekstra lengket, maka nyari lem dulu, terus dalam kondisi berserakan tumpukan bahan pembuat boneka itu ditinggal LiLo dan disapu habis oleh ibunya"

"Hmmm…."

"Nah, malemnya selesailah sudah boneka itu. Nih barangnya pak. Oke kita gantian foto dengan alien ini ya…", kata LiLo masih tetap dengan semangat 45.


Aku jadi senyum sendiri. Dia lupa, betapa tadi pagi suasana rumahbenar-benar bagai neraka baginya, gara-gara boneka belum jadi dan bahan bonekanya sudah disapu dan dibuang ke tempat sampah.

Tangis LiLo pecah gak tertahankan ketika melihat Bonekanya tidak mungkin selesai dengan normal karena sebagian kaki dan tangan boneka sudah tidak ada lagi.

Akupun akhirnya harus mengajak LiLo untuk cari koran edisi kemarin, untuk mencari sisa kaki dan tangan boneka yang belum selesai dibuat LiLo.

Setelah melihat sulitnya mencari koran edisi kemarin, akhirnya LiLo menyerah dan malah minta komik Donald. Kululuskan permintaannya dan kamipun pulang.

Di depan pagar rumah, aku bicara pelan-pelan sama LiLo, sebelum dia membuka pintu pagar.

"Tadi pagi, aku juga mengalami hal yang sama Lo. Kertasku yang sangat penting tak taruh di meja kecil dan ternyata semua kertas di meja itu sudah ikut disapu ibumu. Tahu enggak, kenapa bapak nggak marah sama ibu?"

LiLo diam saja, nggak menjawab, tapi matanya masih menanti perkataanku selanjutnya.

"Karena bapak naruh kertas itu tidak pada tempatnya, biasanya tak taruh di mejaku atau di tasku saja biar aman, maka ketika kutaruh di tempat yang tidak aman dan hilang ya kuterima saja. Eh...... sebentar Lo, coba lihat kertas di kakimu itu”, kataku

LiLopun mengambil kertas lecek yang tergeletak di kakinya.

"Ya ampun Lo, ini kertas yang disapu ibumu yang kucari dari pagi dan nggak ketemu. Alhamdulillah", aku sungguh gembira tak terkira menemukan kertas itu.

Apa kata istriku ketika mendengar ceritaku ini?

"Kalau enggak marah, maka kertasnya ketemu, kalau marah ya enggak ketemu", begitu katanya.

["...jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu..."]

Lilopun tersenyum keciiil banget dan merekapun, ibu dan anak, saling bermaafan.

Istriku minta maaf karena telah menghilangkan kaki dan tangan aliennya LiLo dan LiLo juga minta maaf karena telah memarahi ibunya, hanya gara-gara kertas yang hilang.

Malam itu, yang tinggal hanya keceriaan LiLo dengan bonekanya.

"He..he..he.. bonekanya kok invalid, gak punya kaki dan tangan"

LiLo tetap gak peduli dengan komentar orang dan tetap motret bonekanya, dari segala sudut dan dengan berbagai pose.

 
 


Begitulah dunia anak-anak. Nuansanya sangat cepat berubah, begitu mudah marah, menangis dan tiba-tiba sudah tersenyum dengan penuh keceriaan.

Aku dan istriku sebagai ortu yang kadang tidak siap menanggapi hal ini. Aku memang masih harus belajar banyak utnuk menjadi ayah yang baik.

ditulis oleh eko.eshape@gmail.com

Sabtu, 14 Februari 2009

Biaya transport 4 juta/bulan? Enjoy aja ah...!:-)

Sepulang kantor, aku nongkrong dulu di pinggir jalan, di depan gerbang Waskita. Kulihat ramainya suasana lalu lintas di jalan DI Panjaitan pada hari Jumat tanggal 13 ini [friday 13th].


Satu demi satu kulihat kawan kantorku pada pulang kerja menuju rumah masing-masing. Ada yang naik bis.


Ada yang bawaannya banyak, sehingga diapun memilih naik taxi.

 
 

Ada juga yang ragu-ragu, mau nak bis atau naik taxi.



Aku akhirnya memilih naik taxi, barengan ama istri dan kawannya yang sudah duduk manis di dalam mobil taxi.


Seperti biasa, pilih yang tarif bawah.


Akhirnya sampai juga di rumah, pas kumandang adzan maghrib selesai dilantunkan.


Kulihat waktu menunjukkan pukul 18.20 dan argo menunjukkan angka 104 ribu rupiah.


Kalau tiap hari naik taxi, maka pengeluaran untuk transport ke kantor bisa > 4 juta/bulan. Bisa kaco balau anggaran rumah dan tanggaku kalau tiap hari naik taxi.

He...he...he... mending sewa mobil aja ya [atau naik angkot 59, mantap-murah-meriah]. Di angkot Flight "A59"pun, kalau mau malah bisa sambil main komputer.


Enjoy aja ah, rejeki sudah ada yang ngatur. Kita tinggal berusaha semampu kita dan hasilnya kita serahkan pada yang Di Atas. Dijamin keadilanNya. Kalau harus naik taxi, kenapa tidak?


Rumusnya selalu tersenyum [sambil bilang enjoy aja]

Salam

ditulis oleh eko.eshape@gmail.com

Rabu, 11 Februari 2009

Snack untuk Anakku

"Snacknya kok nggak dimakan, puasa ya pak?", kata kawanku ketika melihat snack pagi yang masih utuh di mejaku.

"Hmmm itu untuk anak-anak yang selalu setia menyambutku di pagar pintu ketika aku pulang dari kantor", jawabku sambil senyum.

"Lha kalau nggak segera dimasukin plastik, ntar ada yang makan lho pak", kata kawanku yang lain ikut nimbrung.

"Ya berarti belum rejeki anakku tuh", jawabku enteng.

Memang pernah kejadian, saat mau pulang kantor, ada kawan yang nyamperin dan melihat kueku masih lengkap maka dia langsung main samber dan habislah kue untuk anakku itu.

Tadinya aku agak kaget juga. Terperangah sejenak, baru kemudian aku sadar bahwa tamu punya hak untuk dihormati dan diberikan yang terbaik yang kita punyai.

Anak-anakkupun tidak kecewa jika bapaknya pulang tanpa oleh-oleh. Mereka memang bersuara kecewa, tapi tetap saja mereka berlaku biasa dan tidak ngambeg atau melakukan hal-hal yang menunjukkan kekecewaan mereka [semoga aku benar untuk hal ini, amin].

Yang menarik memang saat aku membawa oleh-oleh. Biasanya aku bawa pulang dua macam kue atau maksimal 3 jenis kue. Anak-anakku itu langsung saja berebut kue, bak belum pernah mendapat kue seperti itu.

Padahal kue yang kubawa ya hanya kue jajan pasar biasa. Bisa lunpia, resoles, klepon, lemper atau semacam itulah.

Kalau nggak ada ibunya, maka yang paling cepat ngambil kuelah yang merasa punya hak untuk memilih. Kalau ada ibunya, maka setiap kue dipotong menjadi tiga bagian dan tiap anak mendapat satu bagian untuk satu macam kue.

Rasa penat dan capek sejak berangkat habis subuh, sampai pulang menjelang Isya ini hilang sudah kalau melihat suasana rame itu.

 
[apalagi kalau lihat LiLo yang suka aneh2 kayak gini]

Sebaliknya, kalau sambutan anak-anak ogah-ogahan atau malah nggak ada yang menyambut, maka rasa penat itu rasanya bertambah, sehingga harus segera mandi agar badan segar dan melupakan suasana penyambutan yang kurang hangat itu.

Alhamdulillah, prosentase sambutan yang tidak hangat sangat kecil dibanding sambutan yang hangat. Segala puji hanya pada Allah swt atas segala karuniaNya.

Aku belum bisa membayangkan kalau nanti anak-anak sudah pindah ke Yogya, sekolah disana dan bapaknya masih ketinggalan di Jakarta. Hmm pasti kangen banget deh dengan suasana seperti itu.

Kondisi seperti itu pasti akan datang dalam perjalanan hidupku dan aku harus siap untuk kembali kost di dekat kantor lagi. Kasihan nanti istriku yang harus sering bepergian untuk ngopeni anak-anaknya yang manja, terutama yang di Jakarta tuh yang paling manja.

Alhamdulillah, aku dikarunia istri yang baik dan sayang sama aku. Begitulah Allah swt mengatur nasib hambaNya. Dengan berbekal tekad untuk mendirikan mahligai rumah tangga yang sakinah mawadah warochmah, maka akupun dipertemukan dengan istriku yang ini [he..he..he... memang istrinya cuma ini kok].

Semoga keluargaku ini menjadi keluarga yang sakinah mawadah warochmah.
Insya Allah. Amin.