Tampilkan postingan dengan label LiLo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LiLo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2009

LiLo belajar JUALAN

"Bapak cepet pulang ya, kita harus beli-beli nih untuk jualan besok", kata LiLo di ujung telepon, ketika aku baru selesai kursus bahasa Inggris [he..he..he... masih semangat kursus nih yeeew!]

Akupun menyanggupinya, sambil berpikir untuk nelpon istri agar segera pulang, karena jarak istri ke rumah kayaknya lebih dekat daripada jarak aku ke rumah. Meskipun sudah malem, jalan relatif lebih sepi, tapi kalau ngantuk, ya nyetirnya nggak bisa kenceng-kenceng, harus tetap hati-hati dan waspada. Jangan ngebut, jaga etika berkendara !

Sayangnya istriku gak bisa dihubungi [nada sibuk terus], terpaksa pulang dengan sedikit ngebut. Kasihan LiLo sudah nunggu di rumah dan kalau kemaleman tokonya bisa jadi sudah tutup.

Sampai di rumah suasana sudah kacau balau. Begitu buka pager rumah, LiLo langsung masuk mobil dan dengan suara terisak sudah duduk disampingku dan lupa tidak membuka pager secara utuh, sehingga aku belum bisa masuk rumah, menunggu kakak LiLo membuka pintu pager sampai bisa dilalui mobil.

"Ibu nggak mau ngasih uang 20 rebu untuk beli-beli pak", begitu laporan LiLo sambil masih denga terisak.

Yah, latihan sabar lagi nih.

Akupun langsung masuk kamar dan berbaring di kasur.

"Siapa mau cerita duluan, sebelum aku tidur nih", kataku seperti biasa [mungkin anakku sudah bosen dengan gayaku ini].

Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku sedang capek, pulang malem dan perl segera istirahat, jadi jangan ada yang ngambek, sehingga masalah segera selesai.

Mulailah ibunya LiLo cerita, kemudian LiLo menyela disana-sini. Akhirnya kuputuskan untuk sependapat dengan ibunya.

Kuminta LiLo membuat daftar belanjaan dan kuantar ke toko kesayangannya. Eh, rupanya LiLo masih ngambeg, dia nggak mau mbawa kertas untuk nyatat belanjaannya.

Ya udahlah, biar jadi pelajaran buat Lilo.

Bener juga, di toko itu LiLo sibuk mondar mandir kesana-kemari untuk nyari barang yang mau dibeli dan mencoba mencocokkan agar jumlahnya tepat 20 rebu.

"Pak kalau satu biji 2.700 kalau tiga biji berapa ya?"

"Kala ditambah 9 rebu jadi berapa pak?"

Halah, LiLo malah ngasih kerjaan aku.

Akhirnya semu abarang ditaruh di kasir dan ditotal pakai mesin, Keluarlah angka 34 rebu. LiLopun tersenyum malu dan akupun tidak usah membahasnya, karena liLo sudah menyadari kesalahannya.

Pembahasan kesalahan yang sudah jelas tidak akan mendukung terciptanya suasana harmonis, jadi kuajak LiLo pulang dan kuserahkan proses selanjutnya pada ibunya.

"Oke, sekarang kita isi kolom pembelian dan kolom penjualannya", kata ibunya.

"LiLo mau pasang untung berapa?", begitu kata ibunya dan kami semua menonton proses penyusunan keuntungan penjualan itu.

Besoknya aku mendapat laporan dari ibunya dan kakak LiLo, bahwa penjualan LiLo rugi besar. Rupanya karena nggak laku dan pingin segera habis jualannya, maka LiLo melakukan obral diskon, sehingga uang yang masuk malah di bawah uang untuk membeli barang yang dijual.

He...he...he... dasar LiLo.


ditulis oleh penulis tamu eko.eshape@gmail.com

[sampai berita ini ditulis, LiLo belum lapor hasil penjualannya, dia masih sibuk dengan PR matematikanya, sementara kakak-kakaknya sudah meminta LiLo untuk mempertanggung jawabkan penjualannya]

Senin, 16 Februari 2009

Alien dari Planet TURO

"Pak hasil fotoku, nanti dimasukin blog ya?", kata LiLo setelah dia berhasil membuat boneka kertas alien dari planet Turo.



"Terus aku nulis ceritanya gimana donk?"

"Bapak cerita aja begini, tadi pagi beli koran, terus ada gambar alien, terus anakku bilang mau buat boneka kertas itu dengan dibantu oleh kakak-kakaknya", kata LiLo melanjutkan.

"Terus?"

"Nah, malemnya LiLo mencoba menyelesaikan pekerjaan itu tapi karena ngantuk dia tertidur. Paginya dia melanjutkan pembuatan boneka itu tapi karena gak ada lem yang ekstra lengket, maka nyari lem dulu, terus dalam kondisi berserakan tumpukan bahan pembuat boneka itu ditinggal LiLo dan disapu habis oleh ibunya"

"Hmmm…."

"Nah, malemnya selesailah sudah boneka itu. Nih barangnya pak. Oke kita gantian foto dengan alien ini ya…", kata LiLo masih tetap dengan semangat 45.


Aku jadi senyum sendiri. Dia lupa, betapa tadi pagi suasana rumahbenar-benar bagai neraka baginya, gara-gara boneka belum jadi dan bahan bonekanya sudah disapu dan dibuang ke tempat sampah.

Tangis LiLo pecah gak tertahankan ketika melihat Bonekanya tidak mungkin selesai dengan normal karena sebagian kaki dan tangan boneka sudah tidak ada lagi.

Akupun akhirnya harus mengajak LiLo untuk cari koran edisi kemarin, untuk mencari sisa kaki dan tangan boneka yang belum selesai dibuat LiLo.

Setelah melihat sulitnya mencari koran edisi kemarin, akhirnya LiLo menyerah dan malah minta komik Donald. Kululuskan permintaannya dan kamipun pulang.

Di depan pagar rumah, aku bicara pelan-pelan sama LiLo, sebelum dia membuka pintu pagar.

"Tadi pagi, aku juga mengalami hal yang sama Lo. Kertasku yang sangat penting tak taruh di meja kecil dan ternyata semua kertas di meja itu sudah ikut disapu ibumu. Tahu enggak, kenapa bapak nggak marah sama ibu?"

LiLo diam saja, nggak menjawab, tapi matanya masih menanti perkataanku selanjutnya.

"Karena bapak naruh kertas itu tidak pada tempatnya, biasanya tak taruh di mejaku atau di tasku saja biar aman, maka ketika kutaruh di tempat yang tidak aman dan hilang ya kuterima saja. Eh...... sebentar Lo, coba lihat kertas di kakimu itu”, kataku

LiLopun mengambil kertas lecek yang tergeletak di kakinya.

"Ya ampun Lo, ini kertas yang disapu ibumu yang kucari dari pagi dan nggak ketemu. Alhamdulillah", aku sungguh gembira tak terkira menemukan kertas itu.

Apa kata istriku ketika mendengar ceritaku ini?

"Kalau enggak marah, maka kertasnya ketemu, kalau marah ya enggak ketemu", begitu katanya.

["...jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu..."]

Lilopun tersenyum keciiil banget dan merekapun, ibu dan anak, saling bermaafan.

Istriku minta maaf karena telah menghilangkan kaki dan tangan aliennya LiLo dan LiLo juga minta maaf karena telah memarahi ibunya, hanya gara-gara kertas yang hilang.

Malam itu, yang tinggal hanya keceriaan LiLo dengan bonekanya.

"He..he..he.. bonekanya kok invalid, gak punya kaki dan tangan"

LiLo tetap gak peduli dengan komentar orang dan tetap motret bonekanya, dari segala sudut dan dengan berbagai pose.

 
 


Begitulah dunia anak-anak. Nuansanya sangat cepat berubah, begitu mudah marah, menangis dan tiba-tiba sudah tersenyum dengan penuh keceriaan.

Aku dan istriku sebagai ortu yang kadang tidak siap menanggapi hal ini. Aku memang masih harus belajar banyak utnuk menjadi ayah yang baik.

ditulis oleh eko.eshape@gmail.com